Melarung Sepi
Ular
di rumahku telah tiada. Aku mengucap syukur bertubi-tubi. Sedangkan ibu, ah dia
memang perempuan yang hanya bisa menyusut air mata. Tiap malam ibu menekuri
jari-jarinya yang rapuh. Selingkar cincin Masih di jari kiri manisnya. Lalu ia kembali
berurai air mata.
“Harusnya
kita panjatkan doa-doa syukur. Syukur dia telah mati.” Kataku ketus.
Ibu
semakin menyedu. Tersedu-sedu hingga bicaranya terbata.
“Ia
tetap Bapakmu.”
Bagaimana
mungkin seorang ular menjadi bapakku? Dia sungguh berbisa. Benar-benar berbisa.
Kau tahu? Tiap hari ia bahkan mematuk ibuku. Hampir aku tak terima saat
kupergoki ia menyulut bara pada jari-jari tangan ibuku. Jari-jari yang selalu
menyuguhkan teh untuknya.
***
Diruangan yang kutiduri selama 20 tahun. Kayu
amben tua. Kasur yang tak empuk lagi Di temani busa-busa kusamku. Aku tiduran.
Membayangkan sosok Ayahku yang keji, kejam, jahat. Wajah dan matanya yang
melotot. Dia tega menyakiti ibu. Menggunakan sapu lidi. Sesekali ibu melakukan
kesalahan.
Ketiadaan buatku sadar hingga aku
belajar mengerti, memahami bahkan mengartikan hikmah dibalik ini. Saat hari
pertama ketiadaanmu, ada orang yang bersikap pahlawan padaku. Pahlawanku yang
gagah berani ia mengajakku untuk mengenyam pendidikan menengah pertama. Dia
keponakanmu ayah, Mas Hadi namanya. Pasti tak asing lagi bagimu. Namanya
terkenal baik dimatamu. Beliau tak segan-segan berikan kesempatan padaku. Untuk
memakan kursi pendidikan hingga aku lulus pendidikan menengah pertama nanti.
Putaran
detik, menit, jam yang berevolusi menjadi putaran hari,minggu,bulan hingga
tahun. Mengantarkan aku tiba pada saat yang ditunggu-tunggu. Bersandar melepas
lelah dikursi berwarna coklat dengan meja kecil ditemani secangkir teh manis
hangat didepannya. Senyum sapanya yang tampan melontarkan dari bibir sebuah
kalimat.
“Kapan nanti kau lulus Huda?”
Nanti
Mas, tanggal 16 mei 2008.” Kataku berjalan sambil mendekatinya.
Beliau menatapku dengan penuh kasih sayang.
Matanya yang memandang, menginginkanku mengundang segudang harapan dari hati nuraninya.
Segudang harapanku yang tervital yaitu merubah seragam biru putih ini ke biru
abu-abu. Dalam hati ini semoga doa harapanku diijabah oleh Tuhan Yang Maha
Pengasih.
Seribu
malam di sepertiga malam ku lalui, untuk bersujud, berdoa memohon harapanku. Bertaruhkan
nasib Masa depanku kepada-Mu Yaa Robb. Lantunan ayat-ayat sucimu, telah hamba
rutinkan setiap hari. Esoknya di terik matahari yang membakar kulit. Debu-debu
mulai mempanjat kepermukaan dengan tarianya. Mengiringi pilu dan sesak di hati
yang selalu terasa mendadak. Ketika di balik sebuah pintu keluar. Dipenuhi
sesaknya lintasan ontel-ontel temanku. Salah satu kawan seruangan
menghampiriku.
“Heyyy…. Huda !!
Dimana
nanti kau kan lanjutkan?”
“Insya
Allah di SMK Nusa Bangsa”
Kami
berjalan sambil membawa sepeda yang dituntunya. Kepalaku seketika merunduk dan
berfikir, mata hampaku menyadarkan mulut ini agar tak diam saja. Padahal itu
hanya harapan palsu yang tak mungkin nyata. Bagaikan ayam yang melahirkan di
tengah siang bolong. Hanya teringat kata guru agamaku setiap ucapan itu adalah
doa. Berdalil itulah hingga aku menjawab demikian.
Hari
pengumpulan berkas di jenjang menengah ataspun datang pada saatnya. Sering kali
kutanyakan kepada orang tuaku. Namun untuk hari dan detik ini. Aku pastikan ini
pertanyaan yang terakhir oleh pertanyaan yang sama dari buah hatinya.
“Bisakah
aku melanjutkan bu?”
“Maaf
nak, Kita intropeksi nak, ibu untuk modal saja harus berputar otak bahkan tak
jarang ibu berhutang, lalu bagaimana ibu dapat memakaikan baju biru abu-abu
padamu?” ujarnya dengan sedih.
.
Elusan kepala dari tangan ibu, senada ucapannya buatku sedih dan merintih, membayangkan
perjuangan ibu. Kemudian terfikir dalam benak. Aku harus tabah, tegar dan kuat.
Aku laki-laki yang punya kekuatan lebih dari wanita. Aku tidak akan menyerah
disini. Menyerah berarti mati bagiku. Melepaskan pelukan hangat kasih sayang
ibu. Aku pergi berlari dan hinggap temui Mas Hadi. Bukan harapanku lagi untuk
memintanya mengulurkan tangan untukku agar aku sekolah, namun aku ingin mengenyam
ilmu dari usaha Mas Hadi.
***
Mentari
yang terbit menyuruhku pergi mengais pelajaran di lokasi Mas Hadi mencari
selembaran uang kertas. Bermodalkan ilmu yang ku genggam di SMP menguatkan diri
disetiap langkahku. Tempat ini akan
penuh dengan kecelakaan jika kita ceroboh. Tak butuh tenaga ekstra namun
ketelitian dan kehatian harus diterapkan ditempat Mas Hadi berwirausaha.
Listrik yang tak dapat dilihat gejalanya buatku berhati-hati untuk mengeksekusi
kerusakannya. Baling-baling dengan tetesan debu yang mengendap berbulan-bulan.
Serta bau sangit yang tak asing di hidung lancipku sering kali kurasakan
disini. Berpelindung kaos yang kupakai untuk menutupi hidung dari tebu yang
selalu buatku batuk. Begitulah tempat kerjanya. Tiada batasan waktu untuk aku
meninggalkan tempat ini. Hanya saja ketika tubuh mengatakan kelelahannya. Aku
bersigap menghentikan gerakanku. Lalu bergegaslah membereskan perkakas.
Kemudian pulang kerumah.
Beberapa
bulan mengadukan ilmu. Aku merasa ganjal. Wanita berbando putih, diselingi
kupu-kupu ditengahnya. Rambut lurus sepundaknya menyempurnakan kecantikan yang
aduhai. Memakai baju bergaya tren. Kulitnya putih mulus. Dia bersandar dikursi
berbusa. Tepat diruang televisi. Menjadikan
mataku tak berani untuk menengok kemanapun. Seketika aku membisu. Lalu
disaat istirahat tiba. Demi memecahkan Masalah pertanyaan di fikiran. Mulailah
jiwa ragaku mendekati dan menyapanya, disaat ia sedang asyik membaca buku
karangan Habiburrahman E Shirazi yang pernah kubaca bersampulkan tulisan
“Ayat-Ayat Cinta.”
“Eghem
serius amat bacanya?” tanyaku diiringi langkah kakiku mendekatinya.
Tidak
aku sangka-sangka. Aku kira bakal disambut baik. Ternyata dia malah lari.
Padahal aku belum sempat mendengar jawaban darinya. Tingkah lakunya
mengherankan. Dia seperti takut denganku. Apa yang salah denganku? Kataku dalam
hati. Gebrakan pintu terdengar kencang. Lalu suara menguncinya pun jelas dari
luar. Buatku enyah dari situasi itu.
Awan
cerah mengantarkan hatiku untuk memeriahkan perkenalan itu. Musim semi yang
indah ikut datang seketika mengarungi hatiku. Seakan aku tak ingin berpaling
menatap mukanya yang lembut dan feminim. Dia punya pesona cantik, indah,
menawan. Hatiku tak henti-hentinya untuk memuji dia. Seperti dijatuhi bidadari
berselendangkan sutera dari kayangan langit ke tujuh. Sungguh tidak kusangka.
Serentak hati berbicara. Mimpi apa aku semalam?
***
Pagi
cerah di atapi oleh awan biru megah. Matahari tersenyum pada semua makhluk
terkhusus untukku. Aku mengikuti senyumnya sambil setapak demi setapak
kubayangkan raut wajah Ghadah. Berjalan mengikuti bunga-bunga yang mekar.
Selalu menunjukan aku kepada perasaan baikku padanya. Jujur demi masa depanku,
aku ingin mengenalnya lebih jauh. Entahlah apa ini hanya sesaat atau selamanya.
Namun hati tak dapat di bohongi, meskipun aku telah beberapa kali mencoba untuk
berpaling dari sinar cahaya kemilaunya. Tapi semua penghalang mampu ditembus.
Sungguh hebat dia. Dia wanita sempurna. Hingga
hati tak mau berpisah dari jaraknya. Karena akhir-akhir ini mendung tak
selalu datang untuk hujan.
Dua
jam setelah sesampainya aku di lokasi pemungutan ilmuku. Duduk disebuah kursi
kayu seperti bangku sekolah. Ditempat penuh kesibukanku. Sampai-sampai
konsentrasi menghilangkan nyawa kepekaan terhadap suara orang yang
menghampiriku. Lantas aku kaget dan
gemetar sekejap. Oleh perkataan Ghadah yang tiba-tiba ku dengar.
“Huda,
ini teh manis hangatnya untukmu.” Ujarnya sambil membawa nampan dan mengangkat
kursi untuk duduk disebelah.
“Oh
iya terima kasih.”jawabku kaget.
Angin indah dikebun berbunga, membuat
kincir dag, dig, dug, jantung berlari
seperti lari marathon. Keringat dingin ikut memeriahkan kesalah tingakahanku.
Gerak-gerik konsentrasi yang semula tumbuh pesat dan berkembang. Kini terbakar
lenyap oleh kedatangannya. Jadi, pada saat itu juga kuputuskan untuk
beristirahat sejenak serambi menikmati teh manis hangat buatanya. Kami
bercerita pengalaman. Berharap mendapatkan pelajaran dari masing-masing
pengalaman. Disela-sela kami bercerita. Dia mengajakku pergi ke topik bahasan
lain. Dia mulai mengajakku cerita tentang asmara yang pernah kugeluti dahulu.
Sebaliknya aku juga bertanya itu padanya. Dicerita asmara aku dan dia,
Masing-Masing berbeda latar belakang. Berbeda pengalaman asmara. Namun akhirnya
aku dan dia seperti anak kembar yang tak mempunyai orang tua. Aku jomblo dan
diapun sama. Begitulah kedekatanku saat itu. Sugesti yang mengesankan datang
dari pengalaman aku dan dia. Hal ini mengawaliku untuk berani semakin dekat dan
dekat untuk mengenalnya.
“Huda apa yang kau ambil disana?”
Kata Ghadah penuh penasaran
“Hanya sebuah catatan bahan yang
akan dibeli.” Jawabku diselimuti rasa bohong.
Aku hanya bermaksud mengambil
selembar kertas yang telah kutulis dan tidak lupa dengan gambar waru dilengkapi
mawar sebagai penghias goresan tinta ungkapanku. Aku buat tanpa sepengetahuan
siapapun.
Lalu
sekaranglah saat tepat. Saat dimana aku telah menunggu lama. Jam pulang tiba
pada waktunya. Setelah selesai membereskan perkakas adalah saat yang tepat
untuk melanjutkan misi perasaan bunga mawar merah ini. Karna biasanya Mas Hadi
sedang keluar dengan istrinya untuk membeli lauk makan malam. Tulisan berisi
pernyataan kasih sayang seriusku pada dia. Aku rangkai kata-kata dari yang
kupelajari pada sebuah majalah puisiku waktu lampau. Pesona tulisan indah telah
dioptimalkan supaya lebih menarik perhatian membacanya. Akhirnya, selesai
ditempat kerja aku melangkah menuju ruang tengah lalu duduk sambil menonton
televisi. Niat ini mulai perlahan dijalankan. Aku mengesot sedikit demi sedikit
untuk sampai di dekat pintu kamarnya yang berwarna hijau muda. Bertuliskan
desaign berbunga yang ditengahnya terdapat nama dia. Sesampai disamping pintu.
KuMasukan ke lubang horisontal memanjang berlebar kecil dibawah pintu. kertas
berisikan perasaan khayalku untuknya akhirnya surat itu Masuk didalam
kamarnya. Tak lebih dari itu. Aku bisa
tenang untuk meluapkan rasa sayang dan menunggu menerima jawabnya.
Esok
hari saat aku terima teh manis hangat lagi darinya. Aku menanyakan selembar
kertas yang kuMasukan dalam ruang tidurnya kemarin. Ternyata dia sudah membaca
semua isi kertas tersebut. Dia tersenyum tersipu padaku. Aku jadi malu dan
mempunyai banyak rasa gugup. Berharap-harap ceMas kian peka. Berdoa semoga dia
mau menerima diri ini apa adanya. Lalu dia memandangiku. Secara tiba-tiba dia
bilang padaku kalau dia juga sebenarnya sama-sama suka padaku. Bunga musim semi
berbuah manis. Meliputi kegembiraan nan menggejolak riang. Euforia siang ini
berbeda. Sungguh sangat berbeda dari sebelumnya.
Perlahan
setelah berita baik berkunjung spesial untuk perasaanku. Dia mulai
mengehembuskan kabar angin rahasia yang dahulu disembunyikannya. Fikiran
bergambarkan tanda tanya berputar kencang di fikiranku. Selesai dia berkhotbah
dengan ceritanya. Buatku memunculkan sedih dan ingin melontarkan emosi.
Benar-benar diluar dugaan serta penalaran. Diam-diam dia bungkam suara pada Mas
Hadi. Dia Ghadah saudara istrinya adalah seorang korban. Sebab ia takut
menyebarkan aib yang nyata adanya. Dia takut pula merusak keluarga Mas Hadi.
Dia tidak pernah lupa juga oleh ancaman Mas Hadi yang selalu menghantuinya.
Tidak tanggung-tanggung. Mas Hadi berniat membunuh Ghadah ketika ada satu
pasang telinga yang tahu tentang Masalahnya. Bulu kudukku jadi berdiri,
merinding, seketika aku bergetar sekejap. Aku memutuskan diri untuk ikut
membungkam rahasia Ghadah. Meskipun sebenarnya api emosi menyala membara,
hingga seperti magma dalam letusan gunung berapi. Tapi aku memang tak dapat
menggugat tanpa seijin korban. Yaah, begitulah pengakuan korban dari kejamnya
nafsu Mas Hadi. Tidak disangka-sangka, Mas Hadi yang ku kenal sebagai malaikat
penolongku, pahlawan ilmuku. Dia mampu melakukan hal hina semacam itu. Sungguh
dia mempunyai kepribadian tersembunyi. Kabar ini sepintas buatku tak tahu. Mana
yang benar dan mana yang salah.
“Aku memohon padamu Huda, jangan
pernah ceritakan hal ini lagi ke siapapun. Aku menceritakan ini karena
seolah-olah aku juga menyayangimu. Lembaran kertas berisikan surat perasaanmu
sangat kusambut baik. Aku menerimamu apa adanya.” Ucapnya dengan meneteskan air
dari bola matanya.
“Terima kasih Ghadah, aku takkan
menarik rasa sayangku yang terlanjur cinta. Meskipun sekarang kutahu
keperawananmu sudah direnggut olehnya.
Namun yang sekarang menjadi perMasalahan. Apakah kau mengijinkanku jika
aku melapornya kepolisi saja?” Tanyaku penuh perasaan berjuta khawatir.
“Tidak, aku tak ingin kau menganggur
dan kesepian. Tanpa Mas Hadi pula kau tak dapat lanjutkan kerjaanmu ini.
Bukankah begitu Huda? Ujarnya dengan mengusap air mata sambil meyakinkan Huda.
“Baiklah terserah inginmu saja. Tapi
mulai saat ini, aku akan ikut menjagamu. Karena aku menyayangimu.” Kata Huda
yang ikut mengeluskan tangan kerambut Ghadah.
“Terima kasih Huda.”
Akhirnya, aku
berdua dengannya merahasiakan kejadian ini. Kisah yang telah lama menimpanya.
Kini hanya sebagai pengalaman dan pelajaran untuk aku. Agar aku pula tak
menyakitinya. Bahkan aku harus melindunginya. Karena dia juga sama seperti aku
yang sudah kehilangan penompang keluarganya. Membuka lembaran baru dari kertas
perasaan mawar merah. Buatku tak merasa jenuh dan kesepian lagi. Engkaulah yang
buatku melarungkan sepi dijiwa dan ragaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar