Senin, 07 Oktober 2013

Cerpen Muda

Melarung Sepi

Ular di rumahku telah tiada. Aku mengucap syukur bertubi-tubi. Sedangkan ibu, ah dia memang perempuan yang hanya bisa menyusut air mata. Tiap malam ibu menekuri jari-jarinya yang rapuh. Selingkar cincin Masih di jari kiri manisnya. Lalu ia kembali berurai air mata.
“Harusnya kita panjatkan doa-doa syukur. Syukur dia telah mati.” Kataku ketus.
Ibu semakin menyedu. Tersedu-sedu hingga bicaranya terbata.
“Ia tetap Bapakmu.”
Bagaimana mungkin seorang ular menjadi bapakku? Dia sungguh berbisa. Benar-benar berbisa. Kau tahu? Tiap hari ia bahkan mematuk ibuku. Hampir aku tak terima saat kupergoki ia menyulut bara pada jari-jari tangan ibuku. Jari-jari yang selalu menyuguhkan teh untuknya.
***
             Diruangan yang kutiduri selama 20 tahun. Kayu amben tua. Kasur yang tak empuk lagi Di temani busa-busa kusamku. Aku tiduran. Membayangkan sosok Ayahku yang keji, kejam, jahat. Wajah dan matanya yang melotot. Dia tega menyakiti ibu. Menggunakan sapu lidi. Sesekali ibu melakukan kesalahan.
            Ketiadaan buatku sadar hingga aku belajar mengerti, memahami bahkan mengartikan hikmah dibalik ini. Saat hari pertama ketiadaanmu, ada orang yang bersikap pahlawan padaku. Pahlawanku yang gagah berani ia mengajakku untuk mengenyam pendidikan menengah pertama. Dia keponakanmu ayah, Mas Hadi namanya. Pasti tak asing lagi bagimu. Namanya terkenal baik dimatamu. Beliau tak segan-segan berikan kesempatan padaku. Untuk memakan kursi pendidikan hingga aku lulus pendidikan menengah pertama nanti.
Putaran detik, menit, jam yang berevolusi menjadi putaran hari,minggu,bulan hingga tahun. Mengantarkan aku tiba pada saat yang ditunggu-tunggu. Bersandar melepas lelah dikursi berwarna coklat dengan meja kecil ditemani secangkir teh manis hangat didepannya. Senyum sapanya yang tampan melontarkan dari bibir sebuah kalimat.
 “Kapan nanti kau lulus Huda?”
Nanti Mas, tanggal 16 mei 2008.” Kataku berjalan sambil mendekatinya.
 Beliau menatapku dengan penuh kasih sayang. Matanya yang memandang, menginginkanku mengundang segudang harapan dari hati nuraninya. Segudang harapanku yang tervital yaitu merubah seragam biru putih ini ke biru abu-abu. Dalam hati ini semoga doa harapanku diijabah oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.
Seribu malam di sepertiga malam ku lalui, untuk bersujud, berdoa memohon harapanku. Bertaruhkan nasib Masa depanku kepada-Mu Yaa Robb. Lantunan ayat-ayat sucimu, telah hamba rutinkan setiap hari. Esoknya di terik matahari yang membakar kulit. Debu-debu mulai mempanjat kepermukaan dengan tarianya. Mengiringi pilu dan sesak di hati yang selalu terasa mendadak. Ketika di balik sebuah pintu keluar. Dipenuhi sesaknya lintasan ontel-ontel temanku. Salah satu kawan seruangan menghampiriku.
 “Heyyy…. Huda !!
Dimana nanti kau kan lanjutkan?”
“Insya Allah di SMK Nusa Bangsa”
Kami berjalan sambil membawa sepeda yang dituntunya. Kepalaku seketika merunduk dan berfikir, mata hampaku menyadarkan mulut ini agar tak diam saja. Padahal itu hanya harapan palsu yang tak mungkin nyata. Bagaikan ayam yang melahirkan di tengah siang bolong. Hanya teringat kata guru agamaku setiap ucapan itu adalah doa. Berdalil itulah hingga aku menjawab demikian.
Hari pengumpulan berkas di jenjang menengah ataspun datang pada saatnya. Sering kali kutanyakan kepada orang tuaku. Namun untuk hari dan detik ini. Aku pastikan ini pertanyaan yang terakhir oleh pertanyaan yang sama dari buah hatinya.
“Bisakah aku melanjutkan bu?”
“Maaf nak, Kita intropeksi nak, ibu untuk modal saja harus berputar otak bahkan tak jarang ibu berhutang, lalu bagaimana ibu dapat memakaikan baju biru abu-abu padamu?” ujarnya dengan sedih.
. Elusan kepala dari tangan ibu, senada ucapannya buatku sedih dan merintih, membayangkan perjuangan ibu. Kemudian terfikir dalam benak. Aku harus tabah, tegar dan kuat. Aku laki-laki yang punya kekuatan lebih dari wanita. Aku tidak akan menyerah disini. Menyerah berarti mati bagiku. Melepaskan pelukan hangat kasih sayang ibu. Aku pergi berlari dan hinggap temui Mas Hadi. Bukan harapanku lagi untuk memintanya mengulurkan tangan untukku agar aku sekolah, namun aku ingin mengenyam ilmu dari usaha Mas Hadi.
***
Mentari yang terbit menyuruhku pergi mengais pelajaran di lokasi Mas Hadi mencari selembaran uang kertas. Bermodalkan ilmu yang ku genggam di SMP menguatkan diri  disetiap langkahku. Tempat ini akan penuh dengan kecelakaan jika kita ceroboh. Tak butuh tenaga ekstra namun ketelitian dan kehatian harus diterapkan ditempat Mas Hadi berwirausaha. Listrik yang tak dapat dilihat gejalanya buatku berhati-hati untuk mengeksekusi kerusakannya. Baling-baling dengan tetesan debu yang mengendap berbulan-bulan. Serta bau sangit yang tak asing di hidung lancipku sering kali kurasakan disini. Berpelindung kaos yang kupakai untuk menutupi hidung dari tebu yang selalu buatku batuk. Begitulah tempat kerjanya. Tiada batasan waktu untuk aku meninggalkan tempat ini. Hanya saja ketika tubuh mengatakan kelelahannya. Aku bersigap menghentikan gerakanku. Lalu bergegaslah membereskan perkakas. Kemudian pulang kerumah.
Beberapa bulan mengadukan ilmu. Aku merasa ganjal. Wanita berbando putih, diselingi kupu-kupu ditengahnya. Rambut lurus sepundaknya menyempurnakan kecantikan yang aduhai. Memakai baju bergaya tren. Kulitnya putih mulus. Dia bersandar dikursi berbusa. Tepat diruang televisi. Menjadikan  mataku tak berani untuk menengok kemanapun. Seketika aku membisu. Lalu disaat istirahat tiba. Demi memecahkan Masalah pertanyaan di fikiran. Mulailah jiwa ragaku mendekati dan menyapanya, disaat ia sedang asyik membaca buku karangan Habiburrahman E Shirazi yang pernah kubaca bersampulkan tulisan “Ayat-Ayat Cinta.”
“Eghem serius amat bacanya?” tanyaku diiringi langkah kakiku mendekatinya.
Tidak aku sangka-sangka. Aku kira bakal disambut baik. Ternyata dia malah lari. Padahal aku belum sempat mendengar jawaban darinya. Tingkah lakunya mengherankan. Dia seperti takut denganku. Apa yang salah denganku? Kataku dalam hati. Gebrakan pintu terdengar kencang. Lalu suara menguncinya pun jelas dari luar. Buatku enyah dari situasi itu.



Awan cerah mengantarkan hatiku untuk memeriahkan perkenalan itu. Musim semi yang indah ikut datang seketika mengarungi hatiku. Seakan aku tak ingin berpaling menatap mukanya yang lembut dan feminim. Dia punya pesona cantik, indah, menawan. Hatiku tak henti-hentinya untuk memuji dia. Seperti dijatuhi bidadari berselendangkan sutera dari kayangan langit ke tujuh. Sungguh tidak kusangka. Serentak hati berbicara. Mimpi apa aku semalam?
                                                            ***
Pagi cerah di atapi oleh awan biru megah. Matahari tersenyum pada semua makhluk terkhusus untukku. Aku mengikuti senyumnya sambil setapak demi setapak kubayangkan raut wajah Ghadah. Berjalan mengikuti bunga-bunga yang mekar. Selalu menunjukan aku kepada perasaan baikku padanya. Jujur demi masa depanku, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Entahlah apa ini hanya sesaat atau selamanya. Namun hati tak dapat di bohongi, meskipun aku telah beberapa kali mencoba untuk berpaling dari sinar cahaya kemilaunya. Tapi semua penghalang mampu ditembus. Sungguh hebat dia. Dia wanita sempurna. Hingga  hati tak mau berpisah dari jaraknya. Karena akhir-akhir ini mendung tak selalu datang untuk hujan.
Dua jam setelah sesampainya aku di lokasi pemungutan ilmuku. Duduk disebuah kursi kayu seperti bangku sekolah. Ditempat penuh kesibukanku. Sampai-sampai konsentrasi menghilangkan nyawa kepekaan terhadap suara orang yang menghampiriku.  Lantas aku kaget dan gemetar sekejap. Oleh perkataan Ghadah yang tiba-tiba ku dengar.
“Huda, ini teh manis hangatnya untukmu.” Ujarnya sambil membawa nampan dan mengangkat kursi untuk duduk disebelah.
“Oh iya terima kasih.”jawabku kaget.
 Angin indah dikebun berbunga, membuat kincir  dag, dig, dug, jantung berlari seperti lari marathon. Keringat dingin ikut memeriahkan kesalah tingakahanku. Gerak-gerik konsentrasi yang semula tumbuh pesat dan berkembang. Kini terbakar lenyap oleh kedatangannya. Jadi, pada saat itu juga kuputuskan untuk beristirahat sejenak serambi menikmati teh manis hangat buatanya. Kami bercerita pengalaman. Berharap mendapatkan pelajaran dari masing-masing pengalaman. Disela-sela kami bercerita. Dia mengajakku pergi ke topik bahasan lain. Dia mulai mengajakku cerita tentang asmara yang pernah kugeluti dahulu. Sebaliknya aku juga bertanya itu padanya. Dicerita asmara aku dan dia, Masing-Masing berbeda latar belakang. Berbeda pengalaman asmara. Namun akhirnya aku dan dia seperti anak kembar yang tak mempunyai orang tua. Aku jomblo dan diapun sama. Begitulah kedekatanku saat itu. Sugesti yang mengesankan datang dari pengalaman aku dan dia. Hal ini mengawaliku untuk berani semakin dekat dan dekat untuk mengenalnya.
            “Huda apa yang kau ambil disana?” Kata Ghadah penuh penasaran
            “Hanya sebuah catatan bahan yang akan dibeli.” Jawabku diselimuti rasa bohong.
            Aku hanya bermaksud mengambil selembar kertas yang telah kutulis dan tidak lupa dengan gambar waru dilengkapi mawar sebagai penghias goresan tinta ungkapanku. Aku buat tanpa sepengetahuan siapapun.
Lalu sekaranglah saat tepat. Saat dimana aku telah menunggu lama. Jam pulang tiba pada waktunya. Setelah selesai membereskan perkakas adalah saat yang tepat untuk melanjutkan misi perasaan bunga mawar merah ini. Karna biasanya Mas Hadi sedang keluar dengan istrinya untuk membeli lauk makan malam. Tulisan berisi pernyataan kasih sayang seriusku pada dia. Aku rangkai kata-kata dari yang kupelajari pada sebuah majalah puisiku waktu lampau. Pesona tulisan indah telah dioptimalkan supaya lebih menarik perhatian membacanya. Akhirnya, selesai ditempat kerja aku melangkah menuju ruang tengah lalu duduk sambil menonton televisi. Niat ini mulai perlahan dijalankan. Aku mengesot sedikit demi sedikit untuk sampai di dekat pintu kamarnya yang berwarna hijau muda. Bertuliskan desaign berbunga yang ditengahnya terdapat nama dia. Sesampai disamping pintu. KuMasukan ke lubang horisontal memanjang berlebar kecil dibawah pintu. kertas berisikan perasaan khayalku untuknya akhirnya surat itu Masuk didalam kamarnya.   Tak lebih dari itu. Aku bisa tenang untuk meluapkan rasa sayang dan menunggu menerima jawabnya.
            Esok hari saat aku terima teh manis hangat lagi darinya. Aku menanyakan selembar kertas yang kuMasukan dalam ruang tidurnya kemarin. Ternyata dia sudah membaca semua isi kertas tersebut. Dia tersenyum tersipu padaku. Aku jadi malu dan mempunyai banyak rasa gugup. Berharap-harap ceMas kian peka. Berdoa semoga dia mau menerima diri ini apa adanya. Lalu dia memandangiku. Secara tiba-tiba dia bilang padaku kalau dia juga sebenarnya sama-sama suka padaku. Bunga musim semi berbuah manis. Meliputi kegembiraan nan menggejolak riang. Euforia siang ini berbeda. Sungguh sangat berbeda dari sebelumnya.
Perlahan setelah berita baik berkunjung spesial untuk perasaanku. Dia mulai mengehembuskan kabar angin rahasia yang dahulu disembunyikannya. Fikiran bergambarkan tanda tanya berputar kencang di fikiranku. Selesai dia berkhotbah dengan ceritanya. Buatku memunculkan sedih dan ingin melontarkan emosi. Benar-benar diluar dugaan serta penalaran. Diam-diam dia bungkam suara pada Mas Hadi. Dia Ghadah saudara istrinya adalah seorang korban. Sebab ia takut menyebarkan aib yang nyata adanya. Dia takut pula merusak keluarga Mas Hadi. Dia tidak pernah lupa juga oleh ancaman Mas Hadi yang selalu menghantuinya. Tidak tanggung-tanggung. Mas Hadi berniat membunuh Ghadah ketika ada satu pasang telinga yang tahu tentang Masalahnya. Bulu kudukku jadi berdiri, merinding, seketika aku bergetar sekejap. Aku memutuskan diri untuk ikut membungkam rahasia Ghadah. Meskipun sebenarnya api emosi menyala membara, hingga seperti magma dalam letusan gunung berapi. Tapi aku memang tak dapat menggugat tanpa seijin korban. Yaah, begitulah pengakuan korban dari kejamnya nafsu Mas Hadi. Tidak disangka-sangka, Mas Hadi yang ku kenal sebagai malaikat penolongku, pahlawan ilmuku. Dia mampu melakukan hal hina semacam itu. Sungguh dia mempunyai kepribadian tersembunyi. Kabar ini sepintas buatku tak tahu. Mana yang benar dan mana yang salah.
            “Aku memohon padamu Huda, jangan pernah ceritakan hal ini lagi ke siapapun. Aku menceritakan ini karena seolah-olah aku juga menyayangimu. Lembaran kertas berisikan surat perasaanmu sangat kusambut baik. Aku menerimamu apa adanya.” Ucapnya dengan meneteskan air dari bola matanya.
            “Terima kasih Ghadah, aku takkan menarik rasa sayangku yang terlanjur cinta. Meskipun sekarang kutahu keperawananmu sudah direnggut olehnya.  Namun yang sekarang menjadi perMasalahan. Apakah kau mengijinkanku jika aku melapornya kepolisi saja?” Tanyaku penuh perasaan berjuta khawatir.
            “Tidak, aku tak ingin kau menganggur dan kesepian. Tanpa Mas Hadi pula kau tak dapat lanjutkan kerjaanmu ini. Bukankah begitu Huda? Ujarnya dengan mengusap air mata sambil meyakinkan Huda.
            “Baiklah terserah inginmu saja. Tapi mulai saat ini, aku akan ikut menjagamu. Karena aku menyayangimu.” Kata Huda yang ikut mengeluskan tangan kerambut Ghadah.
            “Terima kasih Huda.”
 Akhirnya, aku berdua dengannya merahasiakan kejadian ini. Kisah yang telah lama menimpanya. Kini hanya sebagai pengalaman dan pelajaran untuk aku. Agar aku pula tak menyakitinya. Bahkan aku harus melindunginya. Karena dia juga sama seperti aku yang sudah kehilangan penompang keluarganya. Membuka lembaran baru dari kertas perasaan mawar merah. Buatku tak merasa jenuh dan kesepian lagi. Engkaulah yang buatku melarungkan sepi dijiwa dan ragaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar